Kamis, 01 November 2012

sebuah kepercayaan



Terkadang apa yang di harapkan tak sesuai apa yang kita inginkan. Itulah hidup, tak bisa memaksakan sesuatu yang memang harusnya terjadi. Walau sekeras apapun kita memerangi suatu arus yang lebih kuat untuk menyisihkan kita di pinggiran, mengombang-ambingkan semangat, mengikiskan kepercayaan, menghapuskan harapan yang telah kita bangun walaupun dari sebutir pasir, sebuah batu, segenggam apu dan seteguk air yang kita kumpulkan selama ini. Hanya karena satu langkah saja kaki ini mengantarkan pada suatu tempat yang akan dengan mudah menghapuskan semua pondasi diri, ratalah apa yang kita pertahankan selama ini. Karena tak semudah itu membangun sebuah pondasi yang kuat yang akan kita tanam pada sebuah lahan pribadi seseorang, tentu sangat sulit. Tak semudah mulut berucap lisan. Perlu sebuah proses, waktu yang di luangkan tidak 1 atau 8 detik, 1 atau 5 jam, 1 atau 4 hari, tapi semua itu ada di awali dengan  adanya sebuah kepercayaan yang akan menjadi besi sebagai penguat sebuah pondasi pada pribadi itu. Hingga kita bisa memulainya dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit unsur-unsur pendukung yang akan menjadikannya sebuah bangunan yang indah, kepercayaan, harapan, mengerti, memahami, membela, memberi rasa aman, ketenangan, kesabaran, kehangatan, kegembiraan, kesedihan, dan kesetiaan. Dengan unsur-unsur itu jadilah sebuah bangunan yang  indah. Yang tak bisa di beli dengan uang ataupun di tukar dengan materi. Itulah sebuah bangunan Kepercayaan seseorang pada orang lain.
Namun apakah bangunan itu akan terus ada?
Tentu saja iya, jika kita bisa menjaga dan merawat semua itu. Tentunya kita akan bisa terus bernaung di bawah atapnya, kita terhindar dari panas, hujan, angin ataupun salju. Namun adakalanya semua itu hilang, hilang dengan mudahnya. Memporak-porandakan bangunan hingga pondasi yang amat kuat pun bisa hancur dan menghilang.
Itu tergantung pada orang yang telah di beri sebuah kepercayaan untuk merawat dan menjaganya. Namun perlu di fikirkan kembali dan kembali atau hingga berulang, bahwa : MEMBANGUN KEPERCAYAAN ITU SULIT. MAKA JANGAN KAU RUNTUHKAN DENGAN KETELEDORANMU. SEMUA ITU AKAN HANCUR DENGAN MUDAHNYA.
Teruntuk sahabat-sahabatku, Terimakasih telah mengisi begitu banyak waktu yang telah para sahabat berikan, memberikan pengalaman yang berharga dalam langkah hidup penuh makna dan syukur ini. Tanpa kalian saya tak akan bermakna.
Terus pupuk tali silaturahmi kita, ALLAH memiliki Syurga yang luasnya seluas langit tetapi Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai.
Syurga dunia adalah persahabatan & percintaan dengan dasar ikhlas kerana ALLAH, Al Firdaus adalah Syurga Akhirat..

Semoga ALLAH mengumpulkan kita di kedua Syurga tersebut...

Aamin ya Robbal'Alamin..
“AKU BUKAN RAJA, AKU HANYA RAKYAT JELATA. AKU BUKAN SEORANG PERKASA, AKU HANYA SEORANG LEMAH YANG HINA, AKU PULA BUKAN SHINTA, AKU HANYA WANITA BIASA”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa Kabar Kamu ?

malam ini, renunganku tak lagi sama dengan masa itu ya, karena bukan kamu lagi, ada seseorang yang lebih berarti namun, adakala,buku kusam ...