Terkadang apa yang di harapkan tak sesuai
apa yang kita inginkan. Itulah hidup, tak bisa memaksakan sesuatu yang memang
harusnya terjadi. Walau sekeras apapun kita memerangi suatu arus yang lebih
kuat untuk menyisihkan kita di pinggiran, mengombang-ambingkan semangat,
mengikiskan kepercayaan, menghapuskan harapan yang telah kita bangun walaupun
dari sebutir pasir, sebuah batu, segenggam apu dan seteguk air yang kita
kumpulkan selama ini. Hanya karena satu langkah saja kaki ini mengantarkan pada
suatu tempat yang akan dengan mudah menghapuskan semua pondasi diri, ratalah
apa yang kita pertahankan selama ini. Karena tak semudah itu membangun sebuah
pondasi yang kuat yang akan kita tanam pada sebuah lahan pribadi seseorang,
tentu sangat sulit. Tak semudah mulut berucap lisan. Perlu sebuah proses, waktu
yang di luangkan tidak 1 atau 8 detik, 1 atau 5 jam, 1 atau 4 hari, tapi semua
itu ada di awali dengan adanya sebuah
kepercayaan yang akan menjadi besi sebagai penguat sebuah pondasi pada pribadi
itu. Hingga kita bisa memulainya dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit
unsur-unsur pendukung yang akan menjadikannya sebuah bangunan yang indah,
kepercayaan, harapan, mengerti, memahami, membela, memberi rasa aman,
ketenangan, kesabaran, kehangatan, kegembiraan, kesedihan, dan kesetiaan.
Dengan unsur-unsur itu jadilah sebuah bangunan yang indah. Yang tak bisa di beli dengan uang
ataupun di tukar dengan materi. Itulah sebuah bangunan Kepercayaan seseorang
pada orang lain.
Namun apakah bangunan itu akan terus ada?
Tentu saja iya, jika kita bisa menjaga dan
merawat semua itu. Tentunya kita akan bisa terus bernaung di bawah atapnya,
kita terhindar dari panas, hujan, angin ataupun salju. Namun adakalanya semua
itu hilang, hilang dengan mudahnya. Memporak-porandakan bangunan hingga pondasi
yang amat kuat pun bisa hancur dan menghilang.
Itu tergantung pada orang yang telah di
beri sebuah kepercayaan untuk merawat dan menjaganya. Namun perlu di fikirkan
kembali dan kembali atau hingga berulang, bahwa : MEMBANGUN
KEPERCAYAAN ITU SULIT. MAKA JANGAN KAU RUNTUHKAN DENGAN KETELEDORANMU. SEMUA
ITU AKAN HANCUR DENGAN MUDAHNYA.
Teruntuk
sahabat-sahabatku, Terimakasih telah mengisi begitu banyak waktu yang telah
para sahabat berikan, memberikan pengalaman yang berharga dalam langkah hidup
penuh makna dan syukur ini. Tanpa kalian saya tak akan bermakna.
Terus pupuk tali
silaturahmi kita, ALLAH memiliki Syurga yang luasnya seluas langit tetapi
Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai.
Syurga dunia adalah persahabatan & percintaan dengan dasar ikhlas kerana ALLAH, Al Firdaus adalah Syurga Akhirat..
Semoga ALLAH mengumpulkan kita di kedua Syurga tersebut...
Syurga dunia adalah persahabatan & percintaan dengan dasar ikhlas kerana ALLAH, Al Firdaus adalah Syurga Akhirat..
Semoga ALLAH mengumpulkan kita di kedua Syurga tersebut...
Aamin ya Robbal'Alamin..
“AKU BUKAN RAJA, AKU HANYA RAKYAT JELATA.
AKU BUKAN SEORANG PERKASA, AKU HANYA SEORANG LEMAH YANG HINA, AKU PULA BUKAN
SHINTA, AKU HANYA WANITA BIASA”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar